Night Mode

Monday, June 10, 2019

jancok
Jurus Tupai - Bagi masyarakat Jawa Timur khususnya Daerah Surabaya dan sekitarnya kosa kata Jancok atau Dancok sudah tidak asing ditelinga mereka, bagaimana kata ini digunakan dalam berinsteraksi setiap hari oleh kalangan anak muda atau bahkan orang tua ketika di warung kopi ataupun di tempat kerja. Bahkan Budayawan Sujiwo Tejo menamai komunitasnya dengan sebutan Jancukers dan beliau mengatakan:
“Jancuk” itu ibarat sebilah pisau. Fungsi pisau sangat tergantung dari user-nya dan suasana psikologis si user. Kalau digunakan oleh penjahat, bisa jadi senjata pembunuh. Kalau digunakan oleh seorang istri yang berbakti pada keluarganya, bisa jadi alat memasak. Kalau dipegang oleh orang yang sedang dipenuhi dendam, bisa jadi alat penghilang nyawa manusia. Kalau dipegang orang yang dipenuhi rasa cinta pada keluarganya bisa dipakai menjadi perkakas untuk menghasilkan penghilang lapar manusia. Begitupun “jancuk”, bila diucapkan dengan niat tak tulus, penuh amarah, dan penuh dendam maka akan dapat menyakiti. Tetapi bila diucapkan dengan kehendak untuk akrab, kehendak untuk hangat sekaligus cair dalam menggalang pergaulan, “jancuk” laksana pisau bagi orang yang sedang memasak. “Jancuk” dapat mengolah bahan-bahan menjadi jamuan pengantar perbincangan dan tawa-tiwi di meja makan. (Sujiwo Tedjo, 2012, halaman x)
Jancuk merupakan simbol keakraban. Simbol kehangatan. Simbol kesantaian. Lebih-lebih di tengah khalayak ramai yang kian munafik, keakraban dan kehangatan serta santainya “jancuk” kian diperlukan untuk menggeledah sekaligus membongkar kemunafikan itu. (Sujiwo Tejo, 2012: 397)

Kata Jancok atau Dancok ini memiliki sejarah yang rancu dan  berbeda-beda versi dan tafsir hingga di anggap menjadi kosa kata buruk ataupun umpatan oleh sebagian kalangan.

Menurut salah satu versi kata jancuk berawal para pedagang dari arab yang mana para pedagang itu sering melakukan teguran dengan menggunakan bahasa Arab yaitu Da'Su'  dimana Da' yang berarti tinggalkanlah  sedangkan Su' yang bermakna Kejelekan/Keburukan. Karena lidah orang jawa yang sedikit susah melafadzkan perkataan Da'su' akhirnya kata tersebut berubah  menjadi Dancok atau Jancok.

Ada lagi versi yang menyebutkan bahwa kata Jancok dan Dancok berasal dari era penjajahan Belanda dimana menurut Edi Samson, seorang anggota Cagar Budaya di Surabaya, istilah Jancok atau Dancok berasal dari bahasa Belanda “yantye ook” yang memiliki arti “kamu juga”. Istilah tersebut popular di kalangan Indo-Belanda sekitar tahun 1930-an. Istilah tersebut diplesetkan oleh para remaja Surabaya untuk mencemooh warga Belanda atau keturunan Belanda dan mengejanya menjadi “yanty ok” dan terdengar seperti “yantcook”. Sekarang, kata tersebut berubah menjadi “Jancok” atau “Dancok”.
Namun beberapa kalangan menyebutkan bahwa kata Dancok atau Jancok ini berasal dari salah satu Tank dari tank belanda yang bertulisan Jan Cox ,dimana dalam pertempuran 1945 ketika belanda dan inggris datang ke Indonesia untuk melucuti senjata dari jepang dan milisi indonesia.
Tulisan Jan Cox yang berada di tank tersebut dimaksudkan kepada salah satu pelukis terkenal belanda dan Belgia karena karya lukisanya yang fenomenal,menulis nama seseorang pada bom atau kendaraan tempur adalah hal yang lazim dalam perang dunia kedua.
jancox-tank-belanda
Salah satu Tank Belanda dengan tulisan Jancox

Adapun versi penjajahan jepang kata "Jancok" berasal dari kata Sudanco berasal dari zaman romusha yang artinya “Ayo Cepat”. Karena kekesalan pemuda Surabaya pada saat itu, kata perintah tersebut diplesetkan menjadi “Dancok”.

Untuk sebagian yang memaknai Jancox sebagai kata umpatan seperti warga Kampung Palemahan di Surabaya menganggap kata  “Jancok” merupakan akronim dari “Marijan ngencuk” (“Marijan berhubungan badan”). Kata encuk merupakan bahasa Jawa yang memiliki arti “berhubungan badan”, terutama yang dilakukan di luar nikah. Versi lain menyebutkan bahwa kata “Jancuk” berasal dari kata kerja “diencuk”. Kata tersebut akhirnya berubah menjadi “Dancuk” dan terakhir berubah menjadi “Jancuk” atau “Jancok”.

Sedangkan Menurut badan penelitian Jaseters, Kata Jancok merupakan suatu ungkapan kekecewaan yang merupakan sebuah gabungan kosakata berbahasa jawa, Jan yang berarti "teramat sangat, benar-benar" dengan Cak yang berarti "kakak, senior", yang berarti "kakak (kamu) sangat kelewatan".
Namun karena tidak ingin menyakiti hati senior tersebut, maka dirubahlah Cak menjadi Cok, sehingga tidak menyinggung orang tersebut dan terdengar familiar Jancok

Terlepas dari beberapa versi diatas bagi masyarakat Jawa secara umum kata Dancok atau Jancok merupakan kata Tabu untuk digunakan karena memiliki kosakata negatif. Namum untuk masyarkat Surabaya, Malang dan Gesik kata jancok digunakan untuk menamai komunitasnya sehingga kata tersebut menjadi Ameliorsi atau perubahan makna dari negatif ke makna yang positif.

Comments 0