Night Mode

Sunday, June 16, 2019

Tun Razak- Soeharto-Soekarno
Tun Razak, Soeharto dan Soekarno
Jurus Tupai - Konfrontasi Indonesia - Malaysia terjadi pada kurun waktu kurang lebih  4 Tahun, Berawal dari pengumuman sepihak oleh Tunku  Abdul Rahman pada tanggal 16 September 1963.
Tun Abdul Rahman mengumumkan bergabungnya wilayah koloni Inggris yaitu Sabah dan Sarawak bersama semenanjung malaya dan membentuk negara Malaysia.

Namun pernyataan ini di tentang oleh Presiden Soekarno yang mengangap pembentukan negara malaysia adalah salah satu penjajahan bentuk baru oleh Inggris mengingat pembentukan negara tersebut dilakukan tanpa jajak pendapat oleh masyarakat Sabah dan Sarawak secara transparan dan juga belum adanya hasil resmi oleh PBB, yang oleh presiden soekarno di anggap sebagai penghinaan karena sebelum ini antara Indonesia, Malaysia dan Filipina menyetujui ide Tun Abdul Rahman dalam membentuk negara Malaysia dengan syarat diadakanya jejak pendapat oleh masyarakat Sabah dan Sarawak untuk memilih menjadi bagian dari Malaysia atau merdeka sebagai negara sendiri,mengingat pemberontakan oleh kaum kiri menentang penjajahan Ingris di wilayah Sabah dan Sarawak terjadi dimana-mana.

Konfrontasi indonesia - malaysia di umumkan secara resmi oleh Menteri Luar Negeri Dr.Soebandrio pada tanggal 20 Januari 1963 ,namun sebagian besar perwira TNI tidak mendukung penuh konfrontasi ini karena mereka menganggap konfrontasi ini kurang menguntungkan karena belum ada persiapan matang dan kondisi prajurit yang kelelahan karena baru saja menyelesaikan operasi Trikora dalam merebut Irian barat,di tambah lagi tentara yang akan dilawan adalah tentara Ingris dan sekutunya.

Namun setelah perestiwa G30SPKI preseden Soekarno kehilangan kekuasaanya dan di gantikan oleh ptresiden Soeharto maka hubungan Indonesia dan Malaysia perlahan-lahan membaik dan diadakan perundingan perdamaian  di bangkok  yang di wakili dari Indonesia oleh Menteri Luar Negeri Adam Malik dan dari Malaysia adalah Wakil Perdana Menteri Tun Abdul Razak yang kelak menjadi Perdana Menteri Malaysia Itu dan secara resmi di tanda tangani pada tanggal 11 Augustus 1966 di Jakarta oleh kedua pemimpin tersebut  sebagai tanda berakhirnya konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia.

Tun Abdul Razak sebelum menjadi Perdana Menteri pernah belajar di Ingris dan berteman baik dengan salah satu teman baik Soeharto yang kala itu belum menjadi presiden lagi, kawan tersebut bernama Des Alwi Abubakar yang pada waktu itu pernah menjabat sebagai atase militer dikedutaan besar Indonesia untuk Filiphina.

Des adalah orang yang meminta Soeharto untuk menemani Tunku Abdul Razak selama berjalan-jalan di indoneisa, dan kisah ini diceritakan oleh Des Alwi dalam Buku (Pak Harto: Untold Stories Hal:56).
Dalam kisah tersebut diceritakan Des yang merupakan teman dekat dari Tun Abdul Razak ingin mengunjungi solo dan dia meminta agar  pak harto yang kebetulan waktu itu bertugas di Jawa Tengah.

Baca Juga: Momen-momen sedih Soeharto selama menjadi presiden dan sesudah lengser

"Suatu ketika, Tun Razak yang belum menduduki jabatan penting meminta saya menemaninya berwisata ke Solo,Saya pun teringan sahabat saya, Soeharto yang ketika itu sedang bertugas di Jawa Tengah. Saya mengontaknya agar dapat menemani sahabat Malaysia ini.Pak Harto kemudian mengantarkan Tun Razak berwisata di Solo."(Pak Harto: Untold Stories Hal 56)
Dan menurut Des ketika Soeharto Menjadi presiden Des mengabarkan berita itu kepada Abdul Razak dan Razak pun menyambut itu dengan senang.

"Pak Harto berhasil menggagalkan usaha kudeta G30S/PKI pada tahun 1965 dan kemudian tampil sebagai pemimpin nasional,saya kabarkan berita ini kepada Tun Razak yang saat itu sudah menjadi Wakil Perdana Menteri Malaysia. Tun Razak pun berkomentar dengan senang,"Oh Soeharto yang menemani kita di Surakarta itu , ya!" Saya diminta untuk menyampaikan undangan dari Tun Abdul Razak kepada Pak Harto,Ia menyambut baik undangan itu,mereka bertemu di kesultanan Pahang,Malaysia dalam suasan penuh persahabatan.Rupanya Tun Razak ingin membalas kebaikan Pak Harto mengantarnya selama di Surakarta beberapa waktu silam."(Pak Harto: Untold Stories Hal 56:57)

Des juga menganggap salah satu kembali membaiknya hubungan Indonesia dan Malaysia Pasca Konfrontasi adalah hubungan personal antara kedua pemimpin tersebut.
"Saya yakin hubungan baik yang kembali tersambung antara Indonesia dan Malaysia pasca konflik Dwikora,salah satunya disebabkan hubungan personal yang baik antara kedua tokoh ini. Sebelum menduduki puncak kepimpinan di negaranya masing-masing ,Keduanya telah bersahabat." Ujar Des Alwi.

Comments 0